Senin, 22 Agustus 2016

CERITA HOT

                                    NIKMATNYA DI NGENTOT PARA MONTIR

CASINO - |Hari itu, sekitar jam tiga sore aku bersama sepupuku, Nalla baru
 saja sampai di rumahnya setelah jalan-jalan di mall. Setengah jam kami disana nonton
 VCD sampai pacarnya yang bernama Simpson datang. Memang sih hari itu aku
 bermain ke sini agar bisa sekalian sorenya mengambil mobilku yang sedang di
 service rutin di sebuah bengkel di daerah Jakarta Timur yang kebetulan tidak
 terlalu jauh dari rumah Nalla. Pas sekali saat itu Simpson datang untuk
 nge-date jadi aku bisa ikut menumpang diantar ke bengkel itu. Kamipun berangkat
 dari rumahnya dengan mobil BMW-nya Simpson. Walaupun tidak terlalu jauh namun
 kami sedikit terjebak macet karena saat itu jam bubaran. Yang kukhawatirkan
 adalah takutnya bengkelnya keburu tutup, kalau begitu kan aku mau tidak mau
 harus tetap menumpang pada Simpson padahal mereka mau pergi nonton dan aku
 tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. Akhirnya tiba juga kami di bengkel itu
 tepat ketika akan tutup.



CASINO - “Wah…udah mau tutup tuh Cit, mendingan cepetan lari turun, siapa tau masih
 keburu” kata Nalla.
 “Tanyain dulu Cit, kita tunggu lu di sini, kalau ternyata
 belum bisa ambil lu ikut kita jalan aja” Simpson memberi saran. Akupun segera turun
 dan setengah berlari ke arah pegawai yang sedang mendorong pintu.

“Mas…mas tunggu, jangan ditutup dulu, saya mau ngambil mobil saya yang Hyundai
 warna merah yang dititip kemarin Selasa itu loh !” kataku dengan terburu-buru.
 “Tapi kita udah mau tutup non, kalau mau besok balik aja
 lagi” katanya
 “Ayo dong, mas katanya di telepon tadi udah bisa diambil,
 tolong dong bentar aja yah, saya sudah kesini jauh-jauh nih !” desakku
 “Ada apa nih, Kos, kok malah ngobrol” kata seorang pria yang
 muncul dari samping belakangnya.

Kebetulan sekali pria itu adalah montir yang menangani mobilku ketika aku
 membawa mobil itu ke sini, orangnya tinggi dan agak gemuk dengan rambut gaya
 tentara, usianya sekitar awal empat puluh, belakangan kuketahui bernama Zazhi,
 agaknya dia tergolong montir yang cukup senior di sini.
 Akupun lalu mengutarakan maksud kedatanganku ke sini untuk
 mengambil mobilku itu padanya. Awalnya sih dia juga menyuruhku kembali lagi
 besok karena bengkel sudah tutup, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikan bonus
 uang rokok akhirnya dia menyerah juga dan mempersilakanku masuk menunggu di
 dalam. Sebenarnya sih kalau bengkelnya dekat dengan rumahku aku juga bisa saja
 kembali besok, tapi masalahnya letak tempat ini cukup jauh dari rumahku dan
 macet pula, kan BT banget kalau harus dua kali jalan. Aku melambaikan tangan ke
 arah Nalla dan Simpson yang menunggu di mobil pertanda masalah sudah beres dan
 mereka boleh pergi, merekapun membalas lambaianku dan mobil itu berjalan
 meninggalkanku. Pak Zazhi menjelaskan padaku tentang kondisi mobilku, dia
 bilang bahwa semuanya ok-ok saja, kecuali ada sebuah onderdil di bagian bawah
 mobil yang sebentar lagi tidak layak pakai karena sudah banyak berkarat
 (sory…aku tidak mengerti otomotif selain menggunakannya, sampai lupa nama onderdil
 itu). Karena memikirkan kenyamanan jangka panjang, aku menanyakan kalau bagian
 itu diganti sekarang memakan waktu lama tidak, ongkos sih tidak masalah.
 Setelah berpikir sesaat dia pun mengiyakannya dan menyuruhku duduk menunggu.
 Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu
 keluar meninggalkan tempat ini. Di ruangan yang cukup luas ini tinggallah aku
 dengan Pak Zazhi serta beberapa montir yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang
 tanggung. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini termasuk aku yang
 satu-satunya wanita.
 “Masih banyak kerjaannya ya Mas ?” tanyaku iseng-iseng pada
 montir brewok di dekatku yang sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang.
 “Dikit lagi kok Non, makannya mending diselesaikan sekarang
 biar besoknya lebih santai” jawabnya sambil terus bekerja.

Tidak jauh dari tempat dudukku Pak Zazhi sedang berjongkok
 di sebelah mobilku dan di sebelahnya seorang rekannya yang cuma kelihatan
 kakinya sedang berbaring mengerjakan perkerjaannya di kolong mobil. Ternyata
 pekerjaan itu lama juga selesainya, seperempat jam sudah aku menunggu. Melihat
 situasi seperti ini, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka. Hari itu
 aku memakai kaos ketat oranye berlengan panjang yang dadanya agak rendah, lekuk
 tubuhku tercetak oleh pakaian seperti itu, bawahnya aku memakai rok hitam yang
 menggantung beberapa senti di atas lutut. Maka bukanlah hal yang aneh kalau
 para pria itu di tengah kesibukannya sering mencuri-curi pandang ke arahku,
 apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kakiku.
 Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak Zazhi:
 “Masih lama ya Pak ?”
 “Hampir Non, ini yang susah tuh melepas yang lamanya, habis
 sudah berkarat, sebenarnya sih pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres
 kok”
 “Perlu saya bantuin gak ? Bosen daritadi nunggu terus”
 tanyaku sambil dengan sengaja berjongkok di hadapannya dengan lutut kiri
 bertumpu di lantai sehingga otomatis paha putih mulusku tersingkap kemana-mana
 dan celana dalam merahku juga terlihat jelas olehnya.
 Dia terlihat gugup dan matanya tertumbuk ke bawah rokku yang
 kelihatan karena posisi jongkokku. Aku yakin burungnya pasti sudah terbangun
 dan memberontak ingin lepas dari sangkarnya. Namun aku bersikap biasa saja
 seolah tidak mengetahui sedang diintip.
 “Oohh…ngga….ngga kok Non” jawabnya terbata-bata.
 “Hhoii…obeng kembang dong” sahut montir yang dari dalam
 sambil mendorong kursi berbaringnya keluar dari kolong. Begitu keluar diapun
 ikut terperangah dengan pemandangan indah di atas wajahnya itu. Keduanya
 bengong menatapku tanpa berkedip
 “Kenapa ? kok bengong ? liatin apa hayo…?” godaku dengan
 tersenyum nakal.
 Kemudian kuraih tangan si montir yang sedang berbaring itu
 dan kuletakkan di paha mulusku, memang sih tangannya kotor karena sedang
 bekerja tapi saat itu sudah tidak terpikir hal itu lagi. Tanpa harus disuruh
 lagi tangan kasar itu sudah bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga
 sampai di pangkalnya, disana dia tekankan dua jarinya di bagian tengah
 kemaluanku yang masih tertutup CD.
 “Ooohhh…” desahku merasakan remasan pada kemaluanku.
 Pak Zazhi menyuruhku berdiri dan didekapnya tubuhku serta
 langsung menempelkan bibirnya yang tebal dan kasar pada bibir mungilku.
 Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidak
 mau ketinggalan, setelah dia mengelap tangannya dia dekap aku dari belakang dan
 mulai menciumi leher jenjangku, Beritaseks.com hembusan nafas dan lidahnya yang
 menggelikitik membuat birahiku semakin naik. Payudaraku yang masih tertutup
 baju diremasi dari belakang, tak lama kemudian kaos Mango-ku beserta bra-ku
 sudah disingkap ke atas. Kedua belah payudaraku digerayangi dengan gemas,
 putingnya terasa makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipilin-pilin.
 “Hei, ngapain tuh, kok ga ngajak-ngajak !” seru si montir
 brewok yang memergoki kami sedang berasyik-masyuk.
 Montir di belakangku melambai dan memanggil si brewok untuk
 ikut menikmati tubuhku. Si brewok pun dengan girang menghampiri kami sambil
 mempreteli kancing baju montirnya, kurang dari selangkah di dekatku dia membuka
 seluruh pakaiannya.
 Wow…bodynya padat berisi dengan dada bidang berbulu dan
 bulunya turun saling menyambung dengan bulu kemaluannya. Dan yang lebih
 membuatku terpesona adalah bagian yang mengacung tegak di bawah perutnya, pasti
 tak terlukiskan rasanya ditusuk benda sebesar pisang raja itu, warnanya hitam
 dengan kepala penis kemerahan. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rok
 dan celana dalamku.
 “Wah, asyik rambutnya item lebat banget, gua paling suka
 memek kaya gini” si brewok mengomentari vaginaku.
 Pak Zazhi dan temannya pun mulai melepasi pakaiannya
 masing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yang sudah
 menegang, namun aku tetap lebih suka milik si brewok karena nampak lebih
 menggairahkan, milik Pak Zazhi juga besar dan berisi, namun tidak terlalu
 berurat dan sekeras si brewok, sedangkan punya temannya lumayan panjang, tapi
 biasa saja, standarnya pribumi Indonesialah. Aku sendiri tinggal memakai kaos
 ketat dan bra-ku yang sudah tersingkap.
 Kaki kiriku diangkat ke bahu si brewok yang berjongkok
 sambil melumat vaginaku. Teman Pak Zazhi yang dipanggil ‘Fajar’ itu menopang
 tubuhku dengan mendekap dari belakang, tangannya terus beraktivitas meremas
 payudara dan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku. Pak Zazhi
 sendiri kini sedang menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat
 dan mendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah seperti itu. Tanganku
 menggenggam penis Pak Zazhi dan mengocoknya perlahan.
 “Oookkhh…jangan keras keras” rintihku sambil meringis ketika
 Pak Zazhi dengan gemas menggigiti putingku dan menariknya dengan mulut, secara
 refleks tanganku menjambak pelan rambutnya.
 Sementara si brewok di bawah sana menyedoti dalam-dalam
 vaginaku seolah mau ditelan. Dia memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku sehingga
 memberi sensasi geli yang luar biasa padaku, klitorisku juga dia gigit pelan
 dan digelikitik dengan lidahnya. Pokoknya sangat sulit dilukiskan dengan
 kata-kata betapa nikmatnya saat itu, beritaseks.com  jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis. Aku
 menengokkan wajah ke samping untuk menyambut Fajar yang mau melumat mulutku.
 Lihai juga dia berciuman, lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri rongga
 mulutku, nafasku seperti mau habis rasanya.
 Kemudian mereka membaringkanku di kursi untuk berbaring di
 kolong mobil itu (whateverlah namanya aku tidak tahu nama barang itu ^_^;). Fajar
 langsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah oleh Pak Zazhi
 yang menginginkan jatah lubang lebih dulu. Setelah dibujuk-bujuk Fajar pun
 akhirnya mengalah dari Pak Zazhi yang lebih senior itu. Sebagai gantinya dia
 mengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan penisnya padaku. Kumulai
 dengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut-emut sambil
 mengocok batangnya. Walaupun agak bau tapi aku sangat menikmati oral seks itu,
 aku senang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang kencing dan
 kepala penisnya. Pak Zazhi yang sudah selesai dengan pemanasan dengan
 menggesekkan penisnya pada bibir vaginaku kini sudah mengarahkan penisnya ke
 liang senggamaku. Aku menjerit kecit ketika benda itu menyeruak masuk dengan
 sedikit kasar, selanjutnya dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi
 setiap detil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat
 pula aku mengemut penis si Fajar, kumainkan lidahku di sekujur penis itu untuk
 menambah kenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan atas perlakuanku yang
 memanjakan ‘adik kecil’nya. Rambutku diremas-remas sambil berkata :
 “Oooh…terus Non, enak banget….yahhh !”
 Tanganku yang lain tidak tinggal diam ikut mengocok punya si
 brewok yang pada saat yang sama sedang melumat payudaraku. Dia sangat menikmati
 setiap jengkal payudaraku, dia menghisapnya kuat-kuat diselingi gigitan-gigitan
 yang meninggalkan jejak merah di kulitnya yang putih. Sungguh kagum aku dengan
 penisnya dalam genggamanku, yang benar-benar keras dan perkasa membuatku tidak
 sabar ingin segera mencicipinya. Maka aku melepaskan emutanku pada penis Fajar
 dan berkata pada si brewok :

                                KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT PHOTO BUGIL AKU

“Sini dong Mas, gua mau ngisep burungnya !”
 Si brewok langsung menggantikan Fajar dan menyodorkan
 penisnya padaku. Hmm…inilah yang kutunggu-tunggu, aku langsung membuka
 lebar-lebar mulutku untuk memasukkan benda itu. Tentu saja tidak muat
 seluruhnya di mulut mungilku malah terasa sesak. Si Fajar menggosok-gosokkan
 penisnya yang basah ke wajahku. Sambil dioral, tangan si brewok yang kasar dan
 berbulu itu meremasi payudaraku dengan brutal. Di sisi lain, Pak Zazhi
 melepaskan sepatu berhak tinggi yang kupakai, lalu menaikkan kedua tungkaiku ke
 bahu kirinya, sambil menggenjot dia juga menjilati betisku yang mulus. Aku
 benar-benar terbuai oleh kenikmatan main keroyok seperti ini.
 Tiba-tiba kami terhenti sejenak karena terdengar suara pintu
 di buka dari dalam dan keluarlah seorang yang hanya memakai singlet dan celana
 pendek, tubuhnya agak kurus dan berusia sepantaran dengan Pak Zazhi dengan
 jenggot seperti kambing. Aku mencoba mengingat-ingat orang ini, sepertinya
 pernah lihat sebelumnya, ooohh…iya itu kan montir yang mendengar dan mencatat
 masalah yang kuceritakan tentang mobilku ketika aku membawanya ke sini.
 Sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah dan acak-acakan.
 Sebelumnya dia agak terperanjat dengan apa yang dia lihat tapi kemudian dia
 mendekati kami
 “Weleh-weleh…gua sibuk cuci baju di belakang, lu-lu malah
 pada enak-enakan ngentot” katanya “lho, ini kan si Non cantik yang mobilnya
 diservis itu !”
 “Udah jangan banyak omong, mau ikutan ga !” kata si brewok
 padanya
 Buru-buru si montir yang bernama Marwo itu melepaskan
 celananya dan kulihat penisnya bagus juga bentuknya, besar dengan otot yang
 melingkar-lingkar. Tiga saja belum selesai sudah datang satu lagi, tambah berat
 deh PR gua, demikian kataku dalam hati. Pak Marwo mengambil posisi di sebelah
 kananku, tangannya menjelajah kemana-mana seakan takut tidak kebagian tempat.
 Payudara kananku dibetot dan dilumat olehnya sampai terasa nyeri. Aku mengerang
 sejadi-jadinya antara kesakitan dan kenikmatan, semakin lama semakin liar dan
 tak terkendali.
 Pak Zazhi dibawah sana makin mempercepat frekuensi
 genjotannya pada vaginaku. Lama-lama aku tidak sanggup lagi menahan cairan
 cintaku yang semakin membanjir. Di ambang puncak aku semakin berkelejotan dan
 tanganku semakin kencang mengocok dua batang penis di genggamanku yaitu milik
 Pak Marwo dan Bang Fajar. Fajar juga menggeram makin keras dan crot…crot…cairan
 putih kentalnya menyemprot dan berceceran di wajah dan rambutku. Sementara
 otot-otot kemaluanku berkontraksi makin cepat dan cairan cintaku pun tak
 terbendung lagi. Aku telah mencapai puncak, tubuhku mengejang hebat diiringi
 erangan panjang dari mulutku, tapi dia masih terus menggenjotku hingga tubuhku
 melemas kembali. Setelah dia cabut penisnya, diturunkannya juga kakiku.
 “Gantian tuh, siapa mau memek ?” katanya
 Si brewok langsung menggantikan posisinya, sebelumnya dia
 menjilati dan menyedot cairan vaginaku dengan rakus bagaikan menyantap
 semangka. Pak Zazhi menaiki dadaku dan menjepitkan penisnya yang sudah licin
 diantara payudaraku. Dia memaju-mundurkannya seperti yang dia lakukan terhadap
 vaginaku, tidak sampai lima menit, spermanya muncrat ke muka dan dadaku, kaosku
 yang tergulung juga ikut kecipratan cairan itu. Pak Zazhi mengelap spermanya
 yang berceceran di dadaku sampai merata sehingga payudaraku nampak mengkilap
 oleh cairan itu. Kujilati sperma di sekitar bibirku dengan memutar lidah.

Si brewok minta ganti gaya, kali ini dia berbaring di kursi
 montir. Tanpa diperintah aku menurunkan tubuhnya sambil membuka lebar liang
 senggamaku dengan jari. Tanganku yang lain membimbing batang itu memasuki liang
 itu. Aku menggigit bibir dan mendesis saat penis itu mulai tertancap di
 vaginaku. Hingga akhirnya seluruh batang itu tertelan oleh liang surgaku,
 rasanya sangat sesak dan sedikit nyeri dijejali benda sekeras dan sebesar itu,
 aku dapat merasakan urat-uratnya yang menonjol itu bergesekan dengan dinding
 vaginaku. Aku belum sempat beradaptasi, dia sudah menyentakkan pinggulnya ke
 atas, secara refleks aku menjerit kecil. Sekali lagi dia sentakkan pinggulnya
 ke atas sampai akupun ikut menggoyangkan tubuhku naik-turun. Mataku merem-melek
 dan kadang-kadang tubuhku meliuk-liuk saking nikmatnya. Kuraih penis Pak Marwo
 di sebelah kiriku dan kukulum dengan bernafsu, begitu juga dengan penis Pak Zazhi,
 batang yang sedang kelelahan itu kukocok-kocok agar bertenaga lagi, sisa-sisa
 spermanya kujilati hingga bersih. Kurasakan ada dua jari memasuki anusku,
 mengoreki lalu bergerak keluar-masuk di sana, aku menengok ke belakang ternyata
 pelakunya Bang Fajar yang entah kapan sudah di belakangku.
 Mungkin karena ketagihan dikaraoke olehku, Pak Marwo
 memegangi kepalaku dan menekannya pada selangkangannya, lalu dia maju-mundurkan
 pinggulnya seperti sedang bersenggama. Aku sempat gelagapan dibuatnya, kepala
 penis itu pernah menyentuh tekakku sampai hampir tersedak. Namun hal itu tidak
 mengurangi keaktifanku menggoyang tubuhku dan mengocok penis Pak Zazhi dengan
 tangan kiriku. Payudaraku yang ikut bergoyang naik-turun tidak pernah sepi dari
 jamahan tangan-tangan kasar mereka. Sepertinya Bang Fajar mau main belakang
 karena dia melebarkan duburku dengan jarinya dan sejenak kemudian aku merasakan
 benda tumpul yang tak lain kepala penisnya melesak masuk ke dalamnya. Ketiga
 lubang senggamaku penuh sudah terisi oleh tiga penis. Penis Pak Marwo dalam
 mulutku makin bergetar dan pemiliknya pun makin gencar menyodok-nyodokkannya
 pada mulutku hingga akhirnya menyemprotkan spermanya di mulutku. Belum habis
 semprotannya dia menarik keluar benda itu (thank god, akhirnya bisa menghirup
 udara segar lagi) sehingga sisanya menyemprot ke wajahku, wajahku yang sudah
 basah oleh sperma Bang Fajar dan Pak Zazhi jadi tambah belepotan oleh spermanya
 yang lebih kental dari milik dua orang sebelumnya.
 “Aahh…aahh…dikit lagi Bang !” desahku karena sudah akan
 klimaks lagi
 Cairan cinta terasa terus mengucur membasahi rongga-rongga
 kemaluanku bersamaan dengan penis si brewok yang terasa makin membengkak dan
 sodokannya yang makin gencar. Otot-ototku menegang dan desahan panjang keluar
 dari mulutku akibat orgasme panjang bersama si brewok. Cairan hangat dan kental
 menyemprot hampir semenit lamanya di dalam lubang vaginaku. Akhirnya tubuhku
 kembali melemas dan jatuh telungkup di atas dada yang bidang berbulu itu dengan
 penis masih menancap, sementara dari belakang Bang Fajar masih getol
 menyodomiku tanpa mempedulikan kondisiku sampai dia menumpahkan spermanya di
 anusku lima menit kemudian. Setelah beristirahat lima menit, Pak Zazhi
 mengangkat tubuhku diatas kedua tangannya dan membawaku ke ruangan lain yang
 adalah tempat pencucian mobil bersama teman-temannya.
 “Eh, mau ngapain lagi kita nih Pak ?” tanyaku heran
 “Kita mau mencuci Non dulu soalnya sudah lengket dan bau
 peju sih” jawabnya sambil nyengir, kemudian memerintah si brewok untuk menyiapkan
 selang air.
 Pelan-pelan dia turunkan aku, tapi aku masih belum sanggup
 berdiri karena masih lemas sekali, jadi aku hanya duduk bersimpuh saja di
 lantai marmer itu.
 “Bajunya dilepas aja Non biar nggak basah” katanya sambil
 membantuku melepaskan kaosku yang tergulung.
 Aku kini telah telanjang bulat, hanya jam tangan, anting,
 dan seuntai kalung perak dengan leontin huruf C yang masih tersisa di tubuhku.
 Si brewok menyalakan krannya dan mengarahkan selang itu padaku.
 “Awww…dingin !” desahku manja merasakan dinginnya air yang
 menyemprot padaku

Pak Marwo melepaskan singletnya dan bersama dua orang lainnya mendekati tubuhku
 yang masih disemprot si brewok, ketiganya mengerubungi tubuhku sambil
 tertawa-tawa. Aku lalu diberdirikan dan didekap mereka, tangan-tangan mereka
 menggosoki tubuhku untuk membasuh ceceran sperma yang lengket di sekujur
 tubuhku seperti sedang memolesi mobil dengan cairan pembersih.CerpenSex

Beberapa menit lamanya si brewok menyirami kami dengan air dingin sehingga
 tubuh kami basah kuyup. Sesudah itu dia juga ikut bergabung menggerayangiku.
 Pak Marwo mendekapku dari depan, setelah puas menciumi dan meremas payudaraku
 dia menaikkan kaki kananku ke pingggangnya dan memasukkan penisnya ke vaginaku,
 mereka mengerjaiku dalam posisi berdiri. Pak Zazhi merangkulku dari belakang
 dan tak henti-hentinya mencupangi pundak, leher dan tengukku. Bang Fajar
 berjongkok meremasi dan menjilati pantat bahenolku yang terangkat dengan
 gemasnya. Si brewok menggerayangi payudaraku yang lain sambil menggelikitik
 telingaku dengan lidahnya. Desahan nikmatku terdengar memenuhi ruangan itu.
 Beberapa menit kemudian Pak Marwo klimaks dan menumpahkan spermanya di dalam
 vaginaku. Ini masih belum berakhir, karena setelahnya tubuhku mereka
 telentangkan di atas kap depan sebuah sedan berwarna silver metalik dan kembali
 aku disemprot dengan selang air hingga semakin basah.

Bang Fajar membentangkan pahaku dan menancapkan penisnya ke vaginaku. Mungkin
 karena sudah terisi penuh, maka ketika penis itu melesak ke dalamku, nampak
 sperma kental itu meluap keluar dari sela-sela bibir vaginaku. Aku kembali
 orgasme yang kesekian kalinya, tubuhku menggelinjang di atas kap mobil itu.
 Kemudian tak lama kemudian dia pun mencabut penisnya dan menumpahkan isinya di
 atas perut rataku. Akhirnya selesai juga mereka mengerjaiku, aku terbaring
 lemas diatas kap, rasanya pegal sekali dan sedikit kedinginan karena basah.
 Mereka juga sudah kecapean semua, ada yang duduk mengatur nafas, ada juga yang
 mengelap badannya yang basah.

Pak Zazhi memberiku sebuah Aqua gelas dan handuk kering. Aku menggerakkan
 tangan menghanduki tubuhku yang basah. Setelah Pak Zazhi dan Bang Fajar selesai
 memasang onderdil yang tertunda, selesai pula perbaikan mobilku. Aku
 membayarkan biayanya pada Pak Zazhi yang ternyata masih saudara dengan pemilik
 bengkel ini, pantas daritadi montir lain tunduk padanya. Aku juga memberi
 tambahan seratus ribu rupiah sebagai uang rokok untuk dibagi antara mereka
 berempat. Sampai di rumah aku langsung tidur dengan tubuh pegal-pegal, janji ke
 kafe dengan teman-teman pun terpaksa kubatalkan dengan alasan tidak enak badan.CASINO - 

             KLIK DI SINI UNTUK DAPATKAN PIN BBM DAN NOMOR TELEPON AKU

Populer Minggu Ini