Rabu, 24 Agustus 2016

MAJALAH SEX

                                            NIKMATNYA TUBUH PEGAWAI SALON 

CASINO - Cerita Sex 2016, Pada hari Sabtu, aku dan Hanna sepakat untuk bertemu di
 sebuah salan. Kami janjian di salon itu jam 13:00. Aku pun meluncur ke salon
 itu sekalian  potong rambut. Sejenak aku



CASINO -  melirik jam tangan, terlihat jam satu kurang beberapa menit saja dan kuputuskan
 untuk masuk. Seperti halnya salon-salon biasa, suasana salon ini normal tidak
 ada yang luar biasa dari tata ruangnya serta kegiatannya. Aku langsung menuju
 ke tempat meja reception dan mengatakan niatku untuk potong rambut. Disampaikan
 oleh wanita cantik yang duduk di balik meja reception agar aku menunggu
 sebentar sebab sedang sibuk semua. Sambil menunggu, aku mencoba untuk
 melihat-lihat sekitar siapa tahu ada temanku, tapi tidak terlihat ada temanku
 di antara semua orang tersebut. Mungkin dia belum datang, pikirku. Kuakui bahwa
 hampir semua wanita yang bekerja di salon ini cantik-cantik dan putih dengan
 postur tubuh yang proporsional dan aduhai. Kalau boleh memperkirakan umur
 mereka, mereka berumur sekitar 20-30 tahun. Aku jadi teringat dengan omongan
 temanku, Hanna, bahwa mereka bisa diajak kencan. Namun aku sendiri masih ragu
 sebab salon ini benar-benar seperti salon pada umumnya.Cerita Sex,
Cerita Seks 2016, Setelah beberapa menit menunggu, aku ditegur oleh reception
 bahwa aku sudah dapat potong rambut sambil menunjuk ke salah satu tempat yang
 kosong. Aku pun menuju ke arah yang ditentukan. Beberapa detik kemudian seorang
 wanita muda nan cantik menugur sambil memegang rambutku., Cerita Seks,
Cerita Dewasa 2016, “Mas, rambutnya mau dimodel apa?” katanya sambil melihatku
 lewat cermin dan tetap memegang rambutku yang sudah agak panjang.
 “Mmm… dirapi’in aja Mbak!” kataku pendek., Cerita Dewasa,
 Lalu seperti halnya di tempat cukur rambut pada umumnya, aku
 diberi penutup pada seluruh tubuhku untuk menghindari potongan-potongan rambut.
 Beberapa menit pertama begitu kaku dan dingin. Aku yang diam saja dan dia sibuk
 mulai motong rambutku. Sangat tidak enak rasanya dan aku mencoba untuk
 mencairkan suasana.
Cerita Mesum 2016, “Mbak… udah lama kerja di sini?” tanyaku.
 “Kira-kira sudah enam bulan, Mas… ngomong-ngomong situ baru
 sekali ya potong di sini?” sambungnya sambil tetap memotong rambut.
 “Iya… kemarenan saya lewat jalan ini, terus kok ada salon,
 ya udah dech, saya potong di sini. Ini juga janjian sama temen, tapi mana ya
 kok belum datang?” jawabku sedikit berbohong.
 “Ooo..” jawabnya singkat dan berkesan cuek.
 “Hei…” terdengar suara temanku sambil menepuk pundak.
 “Eh… elo baru dateng?” tanyaku., Cerita Mesum,
 “Iya nih… tadi di bawah jembatan macet, mmm… gue potong dulu
 yach..” jawabnya sambil berlalu.
Cerita Bokep 2016, Ngobrol punya ngobrol, akhirnya kami dekat, dan belakangan
 aku tahu Nadia namanya, 22 tahun, dia kost di daerah situ juga, dia orang
 Manado, dia enam bersaudara dan dia anak ketiga. Kami pun sepakat untuk janjian
 ketemu di luar pada hari Senin. Untuk pembaca ketahui setiap hari Senin, salon
 ini tutup. Setelah aku selesai, sambil memberikan tips sekedarnya, aku
 menanyakan apakah ia mau aku ajak makan.beritaseks.com Dia menyanggupi dan ia
 menulis pada selembar secarik kertas kecil nomor teleponnya., Cerita Bokep,
 Sambil menunggu Hanna, aku ngobrol dengan Nadia, aku sempat
 diperkenalkan oleh beberapa temannya yang bernama Susi, Icha dan Yana.
 Ketiganya cantik-cantik tapi Nadia tidak kalah cantik dengan mereka baik itu
 parasnya juga tubuhnya. Susi, berambut agak panjang dan pada beberapa bagian
 rambutnya dicat kuning. Icha, ia agak pendek, tatapannya agak misterius,
 dadanya sebesar Nadia namun karena postur tubuhnya yang agak pendek sehingga
 payudaranya membuat ngiler semua mata laki-laki untuk menikmatinya. Sedangkan
 Yana, ia tampak sangat merawat tubuhnya, ia begitu mempesona, lingkar
 pinggangnya yang sangat ideal dengan tinggi badannya, pantatnya dan dadanya-pun
 sangat proporsional.
 Akhirnya kami ketemu pada hari Senin dan di tempat yang
 sudah disepakati. Setelah makan siang, kami nonton bioskop, filmnya Jennifer
 Lopez, The Cell. Wah, cakep sekali ini orang, batinku mengagumi kecantikan Nadia
 yang waktu itu mengenakan kaos ketat berwarna biru muda ditambah dengan rompi
 yang dikancingkan dan dipadu dengan celana jeans ketat serta sandal yang tebal.
 Kami serius mengikuti alur cerita film itu, hingga akhirnya semua penonton
 dikagetkan oleh suatu adegan. Nadia tampak kaget, terlihat dari bergetarnya
 tubuh dia. Entah ada setan apa, secara reflek aku memegang tangan kanannya.
 Lama sekali aku memegang tangannya dengan sesekali meremasnya dan ia diam saja.
 Singkat cerita, aku mengantarkan dia pulang ke kostnya, di
 tengah jalan Nadia memohon kepadaku untuk tidak langsung pulang tapi
 putar-putar dulu. Kukabulkan permintaannya karena aku sendiri sedang bebas, dan
 kuputuskan untuk naik tol dan putar-putar kota Jakarta. Sambil menikmati musik,
 kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Nadia mengatakan,
 “Mmm… Will, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, memang semua
 ini terlalu cepat, Will… aku suka sama kamu…” katanya pelan tapi pasti.
 Seperti disambar petir mendengar kata-katanya, dan secara
 reflek aku menengok ke kiri melihat dia, tampaknya dia serius dengan apa yang
 barusan ia katakan. Dia menatap tajam.
 “Apa kamu sudah yakin dengan omonganmu yang barusan, Nad?”
 tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan.
 “Aku nggak tau kenapa bahwa aku merasa kamu nggak kayak
 laki-laki yang pernah aku kenal, kamu baik, dan kayaknya perhatian and care.
 Aku nggak mau kalo setelah aku pulang ini, kita nggak bisa ketemu lagi, Will.
 Aku nggak mau kehilangan kamu,” jawabnya panjang lebar.
 “Mmm… kalo aku boleh jujur sich, aku juga suka sama kamu, Nad…
 tapi kamu mau khan kalo kita nggak pacaran dulu?” tegasku.
 “Ok, kalo itu mau kamu, mmm… boleh nggak aku cium kamu,
 bukti bahwa aku nggak main-main sama omonganku yang barusan?” tanyanya.
 Wah rasanya seperti mau mati, jantungku mau copot, nafas
 jadi sesak. Edan ini anak, seperti benar-benar! Sekali lagi, aku menengok ke
 kiri melihat wajahnya yang bulat dengan bola mata yang berwarna coklat, dia
 menatapku tajam dan serius sekali.
 “Sekarang?” tanyaku sambil menatap matanya, dan dia
 menganguk pelan.
 “OK, kamu boleh cium aku,” jawabku sambil kembali ke
 jalanan.
 Beberapa detik kemudian dia beranjak dari tempat duduknya
 dan mengambil posisi untuk memberi sebuah ciuman di pipi kiriku. Diberilah
 sebuah ciuman di pipi kiriku sambil memeluk. Lama sekali ia mencium dan
 ditempelkannya payudaranya di lengan kiriku. Ooh, empuk sekali, mantap! Payudaranya
 yang cukup menantang itu sedang menekan lengan kiriku. Edan, enak sekali, aku
 jadi terangsang nih. Secara otomatis batang kemaluanku pun mengeras. Dengan
 pelan sekali, Nadia berbisik,

“Will, aku suka sama kamu,” dan ia kembali mencium pipiku
 dan tetap menekan payudaranya pada lengan kiriku. Konsentrasiku buyar, sepertinya
 aku benar-benar sudah terangsang dengan perlakuan Nadia, dan beberapa kendaraan
 yang melaluiku melihat ke arahku menembus kaca filmku yang hanya 50%.
 “Kamu terangsang ya, Will?” tanyanya pelan dan agak lirih.
 Aku tidak menjawab. Tangan kirinya mulai mengelus-elus badanku dan mengarah ke
 bawah. Aku sudah benar-benar terangsang. Sekali lagi Nadia berbisik,
 “Will, aku tau kamu terangsang, boleh nggak aku lihat
 punyamu? punya kamu besar yach!” aku mengangguk. Dibukalah celana panjangku
 dengan tangan kirinya, seperti ia agak kesulitan pada saat ingin membuka ikat
 pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu tangan. Aku bantu dia membuka ikat
 pinggang setelah itu aku kembali memegang setir mobil.
 Dielus-elus batang kemaluanku yang sudah keras dari luar.
 Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya ke dalam dan digenggamlah
 kemaluanku.

                                    KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT PHOTO NADIA

 “Ooh…” desahku pelan. Sedikit demi sedikit wajahnya
 bergerak. Pertama, ia cium bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah. Ia
 cium leherku, dan ia sempat berhenti di bagian dadaku, mungkin ia menikmati
 aroma parfum BULGARI-ku. Ia makin turun dan turun ke bawah. Beberapa kali Nadia
 melakukan gerakan mengocok kemaluanku. Pertama-tama dijilatinya pangkal batang
 kemaluanku lalu merambat naik ke atas.beritaseks.com Ujung lidahnya kini berada
 pada bagian biji kejantananku. Salah satu tangannya menyelinap di antara
 belahan pantatku, menyentuh anusku, dan merabanya. Nadia melanjutkan perjalanan
 lidahnya, naik semakin ke atas, perlahan-lahan. Setiap gerakan nyaris dalam
 beberapa detik, teramat perlahan. Melewati bagian tengah, naik lagi. Ke bagian
 leher batangku. Kedua tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil.
 Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi. Pelan-pelan setiap jilatannya kurasakan
 bagaikan kenikmatan yang tak pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan.
 Setiap kali kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap kali itu
 pula kulihat Nadia masih tetap menjilati kemaluanku dengan penuh nafsu.
 Sesaat Nadia kulihat melepaskan tangannya dari kemaluanku,
 ia menyibakkan rambutnya ke samping tiga jarinya kembali menarik bagian bawah
 batang kemaluanku dengan sedikit memiringkan kepalanya. Nadia kemudian mulai
 menurunkan wajahnya mendekati kepala kejantananku. Ia mulai merekahkan kedua
 bibirnya, dengan berhati-hati ia memasukkan kepala kemaluanku ke dalam mulutnya
 tanpa tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kemudian bergerak perlahan-lahan
 semakin jauh hingga di bagian tengah batang kemaluanku. Saat itulah kurasakan
 kepala kejantananku menyentuh bagian lidahnya. Tubuhku bergetar sesaat dan
 terdengar suara khas dari mulut Nadia. Kedua bibirnya sesaat kemudian merapat.
 Kurasakan kehangatan yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku.
 Perlahan-lahan kemudian kepala Nadia mulai naik.
 Bersamaan dengan itu pula kurasakan tangannya menarik turun
 bagian bawah batang tubuh kejantananku hingga ketika bibir dan lidahnya
 mencapai di bagian kepala, kurasakan bagian kepala itu semakin sensitif. Begitu
 sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan jilatan Nadia begitu
 merasuk dan menggelitik seluruh urat-urat syaraf yang ada di sana. Kuraba
 punggungnya dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah ke bawah.
 Kudapatkan payudara sebelah kanan. Kubuka telapak tanganku mengikuti bentuk
 payudaranya yang bulat. Kuremas dengan lembut. Kubuka satu persatu kancing
 rompinya, dan kembali aku membuka tepak tangan mengikuti bentuk payudaranya.
 Sambil tetap mengulum, tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik
 baju ketatnya dari selipan celana panjangnya. Dipegangnya tanganku dan
 diarahkannya ke dalam. Di balik baju ketatnya, aku meremas-remas payudaranya
 yang masih terbungkus BH. Kuremas satu persatu payudaranya sambil mendesah
 menikmati kuluman pada kemaluanku.
 Kuremas agak kuat dan Nadia pun berhenti mengulum sekian
 detik lamanya. Kuelus-elus kulit dadanya yang agak menyembul dari BH-nya dengan
 sesekali menyelipkan salah satu jariku di antara payudaranya yang kenyal.
 “Agh…” desahku menikmati kuluman Nadia yang makin cepat. Aku
 turunkan BH-nya yang menutupi payudara sebelah kanan, aku dapat meraih
 putingnya yang sudah mengeras. Kupilin dengan lembut. “Ooh… esst…” desahnya
 melepas kuluman dan terdengar suara akibat melepaskan bibirnya dari kemaluanku.
 Menjilat, menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu seterusnya
 berulang-ulang.
 Aku tak mampu lagi melihat ke bawah. Tubuhku semakin lama
 semakin melengkung ke belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan
 mataku. Nadia begitu luar biasa melakukannya. Tak sekalipun kurasakan giginya
 menyentuh kulit kejantananku. Gila, belum pernah aku dihisap seperti ini,
 pikirku. Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah ke mana. Tak kusadari lagi
 sekelilingku oleh gelombang kenikmatan yang mendera seluruh urat syaraf di
 tubuhku yang semakin tinggi. Aku berhenti sejenak meraba payudaranya. Kutengok
 ke bawah, tangan kanannya menggenggam dengan erat persis di bagian leher batang
 kemaluanku, dan ia terlihat tersenyum kepadaku.
 “Kamu luar biasa, Nad,” bisikku sambil menggeleng-gelengkan
 kepala terkagum-kagum oleh kehebatannya. Nadia tersenyum manis dan berkesan
 manja.
 “Eh, bisa keluar aku kalo kamu kayak gini terus,” bisikku
 lagi merasakan genggaman tangannya yang tak kunjung mengendur pada kemaluanku. Nadia
 tersenyum.
 “Kalo kamu udah nggak pengen keluar, keluarin aja, nggak
 usah ditahan-tahan,” jawabnya dan setelah itu menjulurkan lidahnya keluar dan
 mengenai ujung batang kemaluanku. Rupanya ia mengerti aku sedang berjuang untuk
 menahan ejakulasiku.
 “Aaghhh…” desahku agak keras menahan rasa ngilu. Bukan
 kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak karuan, seiring dengan
 gerakan kepalanya yang naik turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba
 dadaku, terkadang ia memilin kedua puting susuku dengan jarinya, terkadang ia
 melepaskan kuluman untuk mengambil nafas sejenak lalu melanjutkannya lagi.
 Semakin lama gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal untuk
 menahan ejakulasi. Kualihkan perhatianku dari payudaranya. Aku meraba ke arah bawah.
 Kubuka kancing celananya. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya terlepas juga.
 Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di balik celana dalamnya. Aku dapat
 rasakan rambut kemaluannya tipis.
 Mungkin dipelihara, pikirku dalam hati. Kuteruskan agak ke
 bawah. Nadia mengubah posisinya. Tadinya ia yang hanya bersangga pada satu sisi
 pantatnya saja, sekarang ia renggangkan kedua kakinya. Dengan mudah aku dapat
 menyentuh kemaluannya. Beberapa saat telunjukku bermain-main di bagian atas
 kemaluannya. Aku naik-turunkan jari telunjukku. Ugh, nikmat sekali nih rasanya,
 pikirku. Sesekali kumasukkan telunjukku ke dalam lubang kemaluannya. Aku
 jelajahi setiap milimeter ruangan di dalam kemaluan Nadia. Aku temukan sebuah
 kelentit di dalamnya. Kumainkan klitoris itu dengan telunjukku. Ugh, pegal juga
 rasanya tangan kiriku. Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku
 menikmati setiap kuluman Nadia. Rasanya sudah beberapa tetes spermaku keluar.
 Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang olehnya.Beritaseks
 Kembali kumasukkan jariku, kali ini dua jari, jari telunjuk
 dan jari tengahku. Pada saat aku memasukkan kedua jariku, Nadia tampak
 melengkuh dan mendesah pelan. Semakin lama semakin cepat aku mengeluar-masukkan
 kedua jariku di lubang kemaluannya dan Nadia beberapa menghentikan kuluman pada
 batang kemaluanku sambil tetap memegang batang kemaluanku. Entah sudah berapa
 orang yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau kenek truk yang kami
 lewati, namun aku tidak peduli. Kenikmatan yang kurasakan saat itu benar-benar
 membiusku sehingga aku sudah melupakan segala sesuatu.
 Kembali Nadia menjilat, menghisap dan mengulum batang
 kemaluanku dan entah sudah berapa lama kami melakukan ini. Kutundukkan kepalaku
 untuk melihat yang sedang dikerjakan Nadia pada kemaluanku. Kali ini Nadia
 melakukan dengan penuh kelembutan, ia julurkan lidahnya hingga mengenai ujung
 kepala kemaluanku lagi. Ia memutar-mutarkan lidahnya tepat di ujung lubang
 kemaluanku. Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan. Beberapa kali tubuhku
 bergetar namun ia tetap pada sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang
 kemaluanku di dalam mulutnya dan ia mainkan lidahnya di dalam.
 “Ooh.. Nad… enakk…” desahku sambil melepaskan tangan kiriku
 dari lubang kemaluannya. Kupegang kepalanya mengikuti gerakan naik turun.
 “Nadia, aku sudah nggak tahannn…” kataku agak lirih menahan
 ejakulasi. Namun gerakan Nadia makin cepat dan beberapa kali ia buka matanya
 namun tetap mengulum dan terdengar suara-suara dari dalam mulutnya.
 “Aaaagghhh…” desahku keras diiringi dengan keluarnya sperma
 dari dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya. Keadaan mobil kami saat itu
 sedikit tersentak oleh pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap sperma yang
 keluar dari dalam kemaluanku hingga akhirnya habis. Nadia tetap menjilati
 kemaluanku dengan lidahnya. Dapat kurasakan lidahnya menyapu seluruh bagian
 kepala kemaluanku. Ugh, nikmat sekali rasanya. Setelah membersihkan seluruh
 spermaku dengan lidahnya, Nadia bergerak ke atas. Kulihat dia, tampak ada
 beberapa spermaku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi kirinya. Aku
 mulai bergerak memperbaiki posisi dudukku, perlahan-lahan. Sambil tetap
 digenggamnya batang kemaluanku yang sudah lemas, Nadia beranjak ke atas melumat
 bibirku, masih terasa spermaku. Sekian detik kami bercumbu dan aku memejamkan
 mata. Akhirnya ia merapikan posisinya, ia duduk dan merapikan pakaiannya. Aku
 pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan celana panjangku namun tidak
 kumasukkan kemejaku.
 Beberapa hari setelah itu, aku main ke kost Nadia dan pada
 saat itu pula kami mengikat tali kasih. Awal bulan Maret lalu Nadia kembali
 dari Manado setelah 2 minggu ia berada di sana dan ia tidak kembali lagi
 bekerja di salon itu. Sekarang kami hidup bersama di sebuah tempat di daerah
 Grogol, sekarang ia diterima sebagai operator di salah satu perusahaan penyedia
 jasa komunikasi handphone. Sedangkan aku tetap sebagai animator yang bekerja di
 sebuah perusahaan di daerah Kedoya tapi aku harus meninggalkan kostku. Setelah
 kami hidup seatap, Nadia mengakui padaku bahwa selama enam bulan ia bekerja di
 salon itu, ia pernah melayani pelanggannya dan ia mengatakan bahwa semua
 pekerja yang bekerja di salon itu juga pekerja seks. Nadia tidak mengetahui
 bagaimana asal mulanya. Nadia sendiri tidak tahu apakah salon merupakan sebuah
 kedok atau seks adalah sebuah tambahan. Dia mengatakan bahwa untuk mengajak
 keluar salah satu karyawati di situ, seseorang harus membayar di muka sebesar
 Rp 500.000. Rasanya Jakarta hanya milik kami berdua, tiap malam setelah mandi
 sepulang dari kerja atau setelah makan malam, kami melakukan hubungan seks.
 Entah sampai kapan semua ini akan berakhir dan entah kapan kami akan resmi
 menikah.
 Kami sungguh menikmati setiap hari yang akan kami lalui dan
 telah kami lalui bersama. Aku sungguh tidak peduli dengan asal-usulnya
 pekerjaan Nadia sebab makin hari aku makin terbius oleh kenikmatan seks dan
 mataku seolah-seolah tertutup oleh rasa sayangku pada dia.CASINO - 

           KLIK DI SINI UNTUK DAPATKAN PIN BBM DAN NOMOR TELEPON NADIA

Populer Minggu Ini